Jumat, 16 Maret 2012

gambaran pengetahuan ibu nifas tentang mobilisasi dini

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

A.     Tinjauan Umum Tentang Pengetahuan

1.   Pengertian
            Pengetahuan adalah hasil dari tahu. Ini terjadi setelah orang melakukan penginderaan terhadap suatu objek tertentu. Pengideraan terjadi melalui panca indra manusia, yakni indra penglihatan, pendengaran,  penciuman, rasa dan raba. Sebagian besar pengetahuan manusia diperoleh melalui mata dan telinga  (Notoadmojo, 2005).
Pengetahuan atau kognitif merupakan domain yang sangat penting untuk terbentuknya tindakan seseorang (overt behavior) karena dari pengalaman dan penelitian ternyata perilaku yang didasari oleh pengetahuan akan lebih langgeng daripada tidak didasari oleh pengetahuan dan kesadaran tidak akan langgeng dan tidak  berlangsung lama  (Notoatmojo, 2005).
Cara pemberian skor pada suatu penelitian terpancang suatu pengertian bahwa angka 100 adalah angka tertinggi yang mungkin dicapai. Adanya angka 100 tertinggi karena pada penilaian peneliti menggunkan skala 1-100. Pada pemberian skor nilai tertinggi      adalah 100 dan terendah 0. Kuesioner yang dibagikan kepada responden yang mampu menjawab lebih atau sama dengan 50% dari jumlah jawaban benar maka responden dikategorikan ”tahu”. Tetapi jika responden hanya mampu menjawab kurang dari 50% dari jumlah pertanyaan yang benar maka responden dikategorikan ”tidak tahu”           (Arikunto, 2005).
Peneliti deskriptif yang menggunakan model - model analisa apabila datanya telah terkumpul, maka lalu diklasifikasikan menjadi dua kelompok data yaitu data kuantitatif yang berbentuk               angka-angka dan data kualitatif yang dinyatakan dalam kata-kata atau simbol. Data kualitatif yang berbentuk kata-kata tersebut disisihkan untuk sementara, karena akan sangat berguna untuk menyertai dan melengkapi gambaran yang diperoleh dari analisis data kualitatif. Data yang diperoleh dari angket atau ceklis, dijumlahkan atau dikelompokkan sesuai dengan instrumen yang digunakan. Jika pilihan jawaban dari angket ”tahu” dan ”tidak tahu” peneliti tinggal menjumlahkan saja berapa jawaban ”tahu” dan ”tidak tahu”    (Arikunto, 2005).
Sebetulnya tidak terlalu keliru apabila peneliti yang menggunakan dua alternatif, yaitu ”tahu” dan ”tidak tahu”, juga ingin memberikan nilai pada setiap jawaban misalnya nilai satu untuk jawaban ”tahu” dan nilai 0 untuk jawaban ”tidak tahu”. Peneliti lainnya mempunyai pendapat berbeda. Menurut kelompok peneliti ini, meskipun menunjukkan nilai, tetapi karena hanya ada dua variasi  yaitu 1 dan 0, tampak ketika menjumlahkan nilai 1 yang terjadi hanya membilang saja. Oleh karena itu jawaban ”tahu” dan ”tidak tahu” biasanya tidak perlu dinilai, tetapi hanya menjumlahkan          (Arikunto, 2005).
2.    Manfaat Tolak ukur
a.    Untuk menyamakan ukuran bagi pengumpul data agar tidak banyak terpengaruh faktor subjektif.
b.    Untuk menjaga kestabilan data yang dikumpulkan dalam waktu yang berbeda.
c.    Untuk mempermudah peneliti dalam mengolah data agar siapapun dapat melakukannya.
Tingkat pengukuran nominal adalah metode yang paling       sederhana dari penggolongan informasi.

B.    Tinjauan Umum Tentang Masa Nifas

1.   Pengertian
a.    Masa Nifas (puerperium) adalah masa pulih kembali, mulai dari persalinan selesai sampai alat - alat kandungan kembali seperti pra hamil dan lama masa nifas ini yaitu 6 - 8 minggu (Sarwono, 2006).
Nifas dibagi dalam 3 periode yaitu :
1)    Puerperium dini yaitu kepedulian dimana ibu telah  diperbolehkan berdiri dan berjalan - jalan. Dalam agama islam, dianggap telah bersih dan boleh berhubungan suami istri setelah 40 hari
2)    Puerperium intermedial yaitu kepulihan menyeluruh alat - alat genetalia yang lamanya 6 - 8 minggu.
3)    Remote puerperium yaitu waktu yang diperlukan untuk pulih dan sehat sempurna terutama bila selama hamil atau waktu persalinan mempunyai komplikasi. Waktu untuk sehat sempurna bisa berminggu-minggu, bulanan atau tahunan .
b.    Masa nifas (puerperium) adalah dimulai setelah plasenta lahir dan berakhir ketika alat-alat kandungan kembali seperti keadaan sebelum hamil. Masa nifas berlangsung selama kira - kira 6 minggu (Suherni, 2008).
c.    Masa nifas ( puerperium) adalah mulai setelah partus selesai dan berakhir setelah kira-kira 6 minggu, akan tetapi seluruh alat genetalia baru pulih kembali seperti sebelum ada kehamilan dalam waktu 3 bulan (Mochtar, 1998).
            Berdasarkan dari beberapa definisi diatas maka dapat disimpulkan bahwa masa nifas adalah dimulai setelah kelahiran plasenta, masa penyembuhan dan perubahan, waktu kembali pada keadaan tidak hamil dan penyesuaian terhadap penambahan keluarga baru,   lamanya 6-8 minggu.

2.   Gambaran Klinis Tentang Masa Nifas
            Beberapa gambaran klinis pada masa nifas :
a.    Uterus secara berangsur angsur menjadi kecil (involusio) sehingga akhirnya kembali seperti sebelum hamil.
b.    Rasa sakit yang disebut after pains (meriang atau mules) disebabkan kontraksi rahim, biasanya berlansung 2 - 4 hari pasca persalinan.
c.    Terjadi hemokonsentrasi dan timbulnya laktasi.
d.    Perubahan yang terdapat pada endometrium ialah timbulnya trombosis, degenerasi, dan nekrosis ditempat implantasi plasenta. Pada hari pertama endometrium yang kira-kira setebal 2 - 5 mm itu mempunyai permukaan yang kasar akibat pelepasan desidua dan selaput janin dan setelah 3 hari permukaan endometrium mulai rata akibat lepasnya sel-sel dari bagian yang mengalami degenerasi.
e.      Pengeluaran lochia yaitu cairan/ sekret yang berasal dari kavum uteri dan vagina dalam masa nifas.
Ada beberapa lochia yaitu :
1)  Lochia  rubra (cruenta) yang berisi darah segar dan  sisa - sisa selaput ketuban, sel - sel desidua, verniks caseosa, lanugo, dan mekonium, selama 2 hari pasca persalinan.
2)  Lochia sanguilenta yang berwarna merah kuning berisi darah dan lendir pada hari ke 3-7 pasca persalinan.
3)  Lochia serosa yang berwarna kuning, cairan tidak berdarah lagi pada hari ke 7-14 pasca persalinan.
4)  Lochia alba berupa cairan putih, setelah 2 minggu
5)  Lochia perulenta  bila terjadi infeksi, keluar cairan seperti nanah berbau busuk.
6)  Lochiaostatis adalah lochia yang tidak lancar keluar.
f.     Vagina  mengecil  dan timbul  rugae  (lipatan-lipatan  atau kerutan-kerutan) kembali.
g.    Luka-luka pada jalan lahir biasa tidak disertai infeksi akan sembuh dalam 6-7 hari.
h.    Bentuk serviks setelah persalinan agak menganga seperti corong berwarna merah kehitaman karena penuh dengan pembuluh darah yang konsistensinya lunak.
i.      Ligamen, fasia dan diafragma pelvis yang meregang pada waktu persalinan setelah bayi lahir secara berangsur-angsur menjadi ciut dan pulih kembali sehingga tidak jarang uterus jatuh ke belakang dan menjadi retrofleksi karena ligamentum rotundum menjadi kendor.
3.    Perawatan Masa Nifas
a.    Mobilisasi            : ibu harus istirahat yang cukup dan tidur terlentang selama 8 jam pasca persalinan, kemudian boleh miring ke      kanan dan ke kiri untuk mencegah terjadinya trombosis dan tromboemboli. Dan pada hari keempat diperbolehkan untuk pulang.
b.    Diet : makanan harus bergizi dan cukup kalori. Sebaiknya makan makanan yang mengandung protein, sayur - sayuran dan buah buahan.
c.    Miksi : hendaknya buang air kecil dapat dilakukan sendiri secepatnya agar kandung kemih tidak penuh dan apabila kandung kemih penuh maka dilakukan katerisasi.
d.    Defekasi : buang air besar harus dilakukan 3-4 hari pasca persalinan dan apabila sulit BAB maka dapat dilakukan klisma.
e.    Perawatan payudara : perawatan ini sangat penting dimulai sejak wanita hamil supaya puting susu lemas, tidak keras dan tidak kering sebagai persiapam untuk menyusui bayinya, dan ibu dianjurkan untuk menyusui bayinya karena ASI sangat baik untuk kesehatan bayinya.
f.     Cuti hamil/ bersalin : bagi wanita pekerja berhak mengambil cuti hamil dan bersalin selama 3 bulan yaitu 1 bulan sebelum bersalin ditambah 2 bulan setelah persalinan.
g.    Kebersihan diri : ajarkan ibu tentang kebersihan daerah kelamin dengan memakai sabun dan air setiap kali selesai BAK dan BAB             dan mengganti pembalut tiap habis mandi atau 3 kali sehari.
h.    Keluarga Berencana (KB) : memberikan penjelasan pada ibu untuk ber-KB untuk menjarangkan dan mengatur kehamilan.
4.    Pengawasan Akhir Masa Nifas
Ada beberapa hal yang harus kita awasi dalam masa nifas, yaitu :
a.    Keadaan umum dan menanyakan perasaan setelah persalinan, melakukan pengukuran tekanan darah, nadi, pernapasan dan suhu tubuh
b.    Perdarahan pasca melahirkan, pengeluaran sisa darah yang mempunyai pola tersendiri.
Perdarahan yang mungkin terjadi dalam masa 40 hari ini biasanya disebabkan oleh adanya sub involusio uteri, dengan penderita disuruh tidur dan diberi tablet ergometrium umumnya perdarahan berhenti dan bila perdarahan tetap ada maka sebaiknya dikerjakan kerokan untuk menyingkirkan kemungkinan adanya sisa plasenta.
c.    Keadaan payudara dan puting susu untuk memberikan ASI bagi bayinya.
d.    Keadaan rahim setelah persalinan diperhatikan tentang kontraksi otot rahim, tingginya fundus rahim setelah persalinan dan terdapatnya nyeri akut karena tekanan saraf.


e.    Keadaan perineum
Perawatan luka episiotomi dilakukan dengan memperhatikan sekitar vagina dan rectum tentang kemungkinan terjadi infeksi sehingga perlu mendapat perhatian seksama terutama jahitan episiotomi yang kemungkinan terjadi infeksi, tanda infeksi yaitu rasa nyeri, bengkak dan adanya nanah, ini sangat memerlukan pengobatan dengan antibiotika umum maupun local.
f.     Apakah ibu sudah BAK.
g.    Rektum apakah ada rektokel dan pemeriksaan tonus muskulus sfinter ani.
h.    Apakah ada flour albus.
C.    Tinjauan Umum Tentang Mobilisasi Dini
1.   Pengertian
Mobilisasi dini adalah kebijaksanaan untuk sedini mungkin membimbing penderita keluar dari tempat tidur dan berjalan    (Suherni, 2007).
Menurut Carpenito (2000), mobilisasi dini merupakan suatu aspek yang terpenting pada fungsi fisiologis karena hal itu esensial untuk mempertahankan kemandirian.
Berdasarkan definisi tersebut dapat disimpulkan bahwa mobilisasi dini adalah suatu upaya mempertahankan kemandirian sedini mungkin dengan cara membimbing penderita untuk mempertahankan fungsi fisiologis.
Konsep mobilisasi mula-mula berasal dari ambulasi dini yang merupakan pengembalian secara berangsur-angsur ke tahap mobilisasi sebelumnya untuk mencegah komplikasi (Roper, 2004)
a.    Macam - macam mobilisasi
Menurut Bayer dan Dubes (2002) mobilisasi dibagi menjadi 2   yaitu :
1)    Mobilisasi penuh
Mobilisasi penuh ini menunjukkan bahwa syaraf motorik dan sensorik mampu mengontrol seluruh area tubuh.
2)    Mobilisasi sebagian
Umumnya mempunyai gangguan syaraf sensorik dan motorik pada area tubuh. Mobilisasi ini dibedakan menjadi dua, yaitu : mobilisasi temporer dan permanen.
b.    Faktor-faktor yang mempengaruhi mobilisasi menurut Kozier (2000) yaitu :
1)    Gaya hidup
2)    Proses penyakit atau trauma
3)    Kebudayaan
4)    Tingkat energi
5)    Usia dan tingkat perkembangannya.
c.    Rentang gerak dalam mobilisasi
Menurut Carpenito (2000) dalam mobilisasi terdapat 3 rentang gerak yaitu :
1)    Rentang gerak pasif            : Rentang gerak pasif ini berguna untuk menjaga kelenturan otot-otot dan persendian dengan menggerakkan otot orang lain secara pasif misalnya : petugas mengangkat dan menggerakkan kaki pasien.
2)    Rentang gerak aktif : Hal ini untuk melatih kelenturan dan kekuatan otot serta sendi dengan cara menggunakan otot - ototnya secara aktif misalnya : pasien berbaring sambil menggerakkan kakinya.
3)    Rentang gerak fungsional : Berguna untuk memperkuat otot-otot dan sendi dengan melakukan aktifitas yang diperlukan.
2.   Manfaat Mobilisasi Dini
Menurut Mochtar (2005), manfaat mobilisasi adalah :
a.    Penderita merasa lebih sehat dan kuat dengan early ambulation. Dengan bergerak, otot-otot perut dan panggul akan kembali normal sehingga otot perutnya menjadi kuat kembali dan dapat mengurangi rasa sakit dengan demikian ibu merasa sehat, membantu memperoleh kekuatan, mempercepat kesembuhan, dan
Faal usus dan kandung kemih lebih baik. Dengan bergerak akan merangsang peristaltik usus kembali normal. Aktifitas ini juga membantu mempercepat organ-organ tubuh bekerja seperti semula.
b.    Mobilisasi dini memungkinkan kita mengajarkan segera untuk ibu merawat anaknya. Perubahan yang terjadi pada ibu pasca operasi akan cepat pulih misalnya kontraksi uterus, dengan demikian ibu akan cepat merasa sehat dan bisa merawat anaknya dengan cepat.
c.    Mencegah terjadinya trombosis dan tromboemboli, dengan mobilisasi sirkulasi darah normal/ lancar.
d.    Peningkatan suhu tubuh
Karena adanya involusi uterus yang tidak baik sehingga sisa darah tidak dapat dikeluarkan dan menyebabkan infeksi dan salah satu dari tanda infeksi adalah peningkatan suhu tubuh.
e.    Perdarahan yang abnormal
Dengan mobilisasi dini kontraksi uterus akan baik sehingga fundus uteri keras, maka resiko perdarahan yang abnormal dapat dihindarkan, karena kontraksi membentuk penyempitan pembuluh darah yang terbuka.
f.     Involusi uterus yang tidak baik
Tidak dilakukan mobilisasi secara dini akan menghambat pengeluaran darah dan sisa plasenta sehingga menyebabkan terganggunya kontraksi uterus.
3.   Cara / Gerakan Mobilisasi Dini
Mobilisasi sangat bervariasi tergantung pada komplikasi persalinan, nifas atau sembuhnya luka. Jika tidak ada kelainan, lakukan mobilisasi sedini mungkin, yaitu 8 jam setelah persalinan normal, ini berguna untuk memperlancar sirkulasi darah dan mengeluarkan cairan vagina (lochia). Umumnya wanita sangat lelah setelah melahirkan, lebih - lebih bila persalinan berlangsung lama, karena ibu harus cukup beristirahat, dimana ia harus tidur terlentang selama 8 jam post partum untuk memcegah perdarahan post partum. Kemudian ia boleh miring ke kiri dan ke kanan untuk mencegah terjadinya trombosis dan tromboemboli. Pada hari kedua telah dapat duduk, hari ketiga telah dapat jalan-jalan dan hari keempat atau kelima boleh pulang. Mobilisasi ini tidak mutlak, bervariasi tergantung pada adanya komplikasi persalinan, nifas, dan sembuhnya luka.
Latihan gerakan setelah melahirkan dilakukan untuk memperlancar sirkulasi darah dan mengembalikan otot-otot yang kendur, terutama rahim dan perut yang memuai saat hamil. Latihan tertentu beberapa menit setiap hari sangat membantu, seperti :
a.    Tahap Mobilisasi  (Beyer, 2002) yaitu :
1)    Tahap I        :  mobilisasi atau gerakan awal : nafas dalam dan batuk.
2)    Tahap II       :  mobilisasi atau gerak berputar.
3)    Tahap III      :  mobilisasi atau gerakan duduk tegak.
4)    Tahap IV     :  mobilisasi atau gerakan turun dari tempat tidur (3x/hr).
5)    Tahap V      :  mobilisasi atau gerakan berjalan dengan bantuan  (2x/hr).
6)    Tahap VI     :  mobilisasi atau gerakan naik ke tempat tidur
7)    Tahap VII    :  mobilisasi atau gerakan bangkit dari duduk ditempat tidur.
b.    Tahap Mobilisasi (Suherni, 2008) yaitu :
1)    Hari pertama : posisi telentang dan rileks, kemudian lakukan pernafasan perut diawali dengan mengambil nafas melalui hidung, kembungkan perut, dan tahan hingga hitungan ke-5, kemudian keluarkan nafas pelan-pelan melalui mulut sambil menkontraksikan otot perut. Ulangi  sebanyak 8 kali.







Gambar 1 : Gerakan hari pertama
                                      Sumber    : Suherni, 2008
2)    Hari kedua    : sikap tubuh terlentang, kedua kaki lurus kedepan. Angkat kedua tangan lurus ke atas sampai kedua telapak tangan bertemu, kemudian turunkan perlahan sampai kedua tangan terbuka lebar hingga sejajar dengan bahu. Ulangi sebanyak 8 kali.








Gambar 2 : Gerakan hari kedua
                          Sumber        : Suherni, 2008
3)    Hari ketiga     : berbaring rileks dengan posisi tangan disamping badan dan lutut ditekuk. Angkat pantat perlahan kemudian diturunkan kembali. Ingat jangan menghentak ketika menurunkan pantat. Gerakan dilakukan 8 kali.




Gambar 3 : Gerakan hari ketiga
                          Sumber        : Suherni, 2008
4)    Hari keempat            : posisi tubuh berbaring dengan posisi tangan kiri disamping badan, tangan kanan diatas perut dan lutut ditekuk. Angkat kepala sampai dagu menyentuh dada sambil mengerutkan otot sekitar anus dan mengkontraksikan  otot perut. Kepala turun pelan-pelan ke posisi semula sambil mengendurkan otot sekitar anus dan merelaksasikan otot perut. Jangan lupa untuk mengatur pernafasan. Ulangi gerakan sebanyak 8 kali.






Gambar 4 : Gerakan hari keempat
                        Sumber    : Suherni, 2008
5)    Hari kelima    : tubuh tidur telentang, kaki lurus, bersama-sama dengan mengangkat kepala sampai dagu menyentuh dada, tangan menjangkau lutut kiri yang ditekuk, diulang sebaliknya. Kerutkan otot sekitar anus dan kontraksikan perut ketika mengangkat kepala. Lakukan perlahan dan atur pernafasan saat melakukan gerakan. Lakukan gerakan sebanyak 8 kali.











Gambar 5 : Gerakan hari kelima
                          Sumber        : Suherni , 2008
6)    Hari keenam : posisi tidur telantang, kaki lurus dan kedua tangan disamping badan, kemudian lutut ditekuk kearah perut 90 derajat secara bergantian antara kaki kiri dan kaki kanan. Jangan menghentak ketika menurunkan kaki, lakukan   perlahan tapi bertenaga. Lakukan gerakan sebanyak 8 kali.








Gambar 6 : Gerakan hari keenam
                        Sumber    : Suherni , 2008
7)    Hari ketujuh  : tidur telentang kaki lurus, kedua tangan disamping badan. Angkat kedua kaki secara bersamaan dalam keadaan lurus sambil mengkontraksikan perut, kemudian turunkan perlahan. Atur pernafasan. Gerakan dapat diulang 8 kali.



Gambar 7 : Gerakan hari ketujuh
                          Sumber    : Suherni , 2008
8)    Hari kedelapan : posisi nungging, nafas melalui pernafasan perut. Kerutkan anus dan tahan 5-10 detik. Saat anus dikerutkan ambil nafas kemudian keluarkan nafas pelan-pelan sambil mengendurkan anus. Lakukan sebanyak 8 kali.





Gambar 8 : Gerakan hari kedelapan
                       Sumber     : Suherni , 2008
9)    Hari kesembilan : posisi berbaring, kaki lurus, kedua tangan disamping badan, angkat kedua kaki dalam keadaan lurus sampai 90 derajat, kemudian turunkan kembali pelan – pelan. Jangan menghentak ketika menurunkan kaki. Atur nafas saat mengangkat dan menurunkan kaki. Gerakan dapat diulangi sebanyak 8 kali.






Gambar 9 : Gerakan hari kesembilan
                     Sumber     : Suherni , 2008
10) Hari kesepuluh : tidur telentang , kaki lurus, kedua telapak tangan diletakkan dibelakang kepala kemudian bangun sambil posisi duduk, kemudian   perlahan – lahan posisi tidur kembali (sit up). Lakukan sebanyak 8 kali.











Gambar 10 : Gerakan hari kesepuluh
                      Sumber     : Suherni , 2008         
c.    Menurut Imelda (2009) mobilisasi dini dilakukan secara bertahap berikut ini akan dijelaskan tahap mobilisasi dini pada ibu post operasi seksio sesarea :
1)    Setelah operasi, pada 6 jam pertama ibu pasca operasi seksio sesarea harus tirah baring dulu. Mobilisasi dini yang bisa dilakukan adalah menggerakkan lengan, tangan, menggerakkan ujung jari kaki dan memutar pergelangan kaki, mengangkat tumit, menegangkan otot betis serta menekuk dan menggeser kaki.
2)    Setelah 6-10 jam, ibu diharuskan untuk dapat miring kekiri dan kekanan mencegah trombosis dan tromboemboli.
3)    Setelah 24 jam ibu dianjurkan untuk dapat mulai belajar duduk.
4)    Setelah ibu dapat duduk, dianjurkan ibu belajar berjalan.

D.    Kerangka Konsep
1.   Konsep Pemikiran Variabel Yang Diteliti
Pada penelitian ini terdapat 2 variabel yaitu dependen dan independen. Variabel dependen merupakan variabel yang terpengaruh oleh adanya variabel independen. Pada penelitian yang menjadi variabel dependen adalah Pengetahuan Ibu Nifas Tentang Mobilisasi Dini.Variabel independen merupakan variabel yang mempengaruhi variabel dependen, yang menjadi variabel indevenden adalah pengertian mobilisasi dini, manfaat mobilisasi dini, dan cara/ gerakan mobilisasi dini.
Konsep mobilisasi dini berasal dari ambulasi dini yang merupakan pengembalian secara berangsur-angsur ke tahap mobilisasi sebelumnya untuk mencegah komplikasi. Mobilisasi dini merupakan suatu aspek yang terpenting dengan mempertahankan kemandirian sedini mungkin dengan cara membimbing penderita untuk mempertahankan fungsi fisiologis, namun ibu nifas tidak menyadari hal tersebut karena kurangnya pengetahuan tentang mobilisasi dini.





2.   Bagan Kerangka Konsep
Pengertian Mobilisasi Dini
Pengetahuan Ibu Nifas Tentang Mobilisasi Dini
 



Manfaat  Mobilisasi Dini
                                               



Gerakan  Mobilisasi Dini
                                                                    
                                       

Keterangan :                            :  Variabel independen
:  Variabel dependen       
                                                   :  Variabel yang diteliti                 
E.     Definisi Operasional dan Kriteria Obyektif
a.   Pengetahuan
Pengetahuan ibu nifas tentang mobilisasi dini  adalah segala wawasan atau hasil tahu dari ibu nifas tentang mobilisasi dini berdasarkan jawaban dalam kuesioner yang dibagikan.
Kriteria objektif :
Tahu                     :  Apabila responden menjawab ≥ 50% atas seluruh pertanyaan tentang mobilisasi dini.
Tidak tahu           :  Apabila responden menjawab < 50% atas seluruh pertanyaan tentang mobilisasi dini.
b.    Pengetahuan Tentang Pengertian Mobilisasi Dini
Pengetahuan ibu nifas tentang pengertian mobilisasi dini adalah segala sesuatu yang ibu ketahui tentang pengertian mobilisasi dini berdasarkan jawaban dalam kuesioner yang dibagikan.
Kriteria objektif :
Tahu                     :  Apabila responden menjawab ≥ 50% atas seluruh pertanyaan tentang pengertian mobilisasi dini.
Tidak tahu           :  Apabila responden menjawab < 50% atas seluruh pertanyaan tentang pengertian mobilisasi dini.
c.    Pengetahuan Tentang Manfaat Mobilisasi Dini
Pengetahuan ibu tentang manfaat mobilisasi dini segala sesuatu yang ibu ketahui tentang manfaat mobilisasi dini berdasarkan jawaban dalam kuesioner yang dibagikan.
Kriteria obbjektif :
Tahu                     :  Apabila responden menjawab ≥ 50% atas seluruh pertanyaan tentang manfaat mobilisasi dini.
Tidak tahu           :  Apabila responden menjawab < 50% atas seluruh pertanyaan tentang manfaat mobilisasi dini.


d.    Pengetahuan Tentang Cara/ Gerakan Mobilisasi Dini
Pengetahuan ibu tentang cara cara gerakan mobilisasi dini adalah segala sesuatu yang ibu ketahui tentang gerakan mobilisasi dini berdasarkan jawaban dalam kuesioner yang dibagikan.
Kriteria objektif :
Tahu                     :  Apabila responden menjawab ≥ 50% atas seluruh pertanyaan tentang gerakan mobilisasi dini.
Tidak tahu           :  Apabila responden menjawab < 50% atas seluruh pertanyaan tentang gerakan mobilisasi dini.
            Berdasarkan uraian dari Tinjauan Pustaka yang telah dibahas sebelumnya, selanjutnya akan dibahas tentang Metode Penelitian pada    Bab III.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar